Fort Vredeburg, Jogjakarta , 02-09-2011

Fort Vredeburg, Impressions of Dutch colonialism in the ground mataram

 

 

Gagal Terbang….. T_T

 

sayang ya awan sore gak ngedukung paras ayumu…hehe

 

 

tampak depannya nih…keren ya?…belanda banget..hahay…(editan)

 

diambil dari dalam benteng…bagian benteng paling belakang

 

kasian tuh patung, dijemur mpe item gitu @_@…. dari taun berapa yak mereka bediri….emmmm…tauk ah ^_^
ini yang motoin ibu2 yang gak kita kenal lo…asal minta tolong aja…makasih ya buuuu …#senyum 3 jari
sumpah , aku emang lama tinggal di Kota Magelang yang notabene deket banget sama Kota Jogja. Cuma 45 menit jika ditempuh naek motor yang ngebut..hehe…kalo nyante yah 1 jaman lah.. Tapi gak banyak tempat menarik yang menandung nilai sejarah yang pernah aku datengin, macam tempat satu nih yang akan aku bagikan ke agan semuanya. Ya…Benteng Vredeburg. Bukannya gak pernah denger, cuman males aja masuknya. Lewat sih sering. Banget malah. Boro – boro masuk ke dalam benteng, noleh kalo lewat aja jarang banget….
Tanggal 4 september 2011, abis jalan jalan ke Tamansari, Musium Kereta Kencana, mampir ke Gadri Resto, spot terakhir ya Benteng Vedeburg. Kalo di tanya kenapa pilih tempat ini. emmmmm…jujur selain emang belum pernah, penasaran aja kayak apa kondisi didalamnya. Lagian tema perjalananku sama ayuk adalah napak tilas simbol sejarah Keraton dan Jogja.
Parkir motor di depan Kantor Pos, aku lanjutkan jalan kaki menuju benteng. jam 3 sore saat itu. Langit cerah, lingkungan depan benteng rame banget. Maklum lah abis Lebaran Idul Fitri, jadi masih dalam suasana liburan. Asik karena kita ngelewatin pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangan khas jogja, seperti sandal jepit cantik bertulis dan bertemakan jogja, kaos sablon bertuliskan jogja, penjual makanan (sate, cilok,es kelapa muda, ampe gulali). Belum lagi yang menjajakan topi, mainan tradisional sampai penjual tanaman hias kayak bonsai pun ada. Nah lo, mana gak asik tuh. Belum masuk benteng aja udah disuguhin pemandangan yang asik. Meski gak beli, tapi mata jadi agak seger. hehe….
Masuk depan benteng, aku ma ayuk disambut penjaga loket tiket masuk, murah lo ….ehhhhmmmm…kesan pertama, bersih, rapi, hijau dan Belanda bangeeeeeetttt. ahahaha….
okeh gan sdikit info yang aku tau tentang tuh benteng, cekibrot aja ya
Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengat lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwono I) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri Raja-raja Jawa pada waktu itu. 
Orang Belanda yang berperan penting dalam lahirnya Perjanjian Giyanti adalah Nicolaas Harting yang menjabat sebagai Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa (Gouveurneur en Directuer van Java�s noordkust) sejak bulan Maret 1754. Pada hakekatnya perjanjian tersebut adalah perwujudan dari usaha untuk membelah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasuhunan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selanjutnya Kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Abdul Rachman Sayidin Panata Gama Khalifatullah I. Sedangkan Kasuhunan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono III.
Langkah pertama yang diambil oleh Sri Sultan HB I adalah segera memerintahkan membangun kraton. Dengan titah tersebut segera dibuka hutan beringin dimana ditempat tersebut sudah terdapat dusun Pacetokan. Sri Sultan HB I mengumumkan bahwa wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya tersebut diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta.
Selain sebagai Panglima Perang yang tangguh Sri Sultan HB I adalah juga seorang ahli bangunan yang hebat. Kraton Kasultanan Yogyakarta pertama dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755 dan pada hari Kamis Pahing 7 Oktober 1756 meski belum selesai secara sempurna Sultan dan keluarganya berkenan untuk menempatinya.
Setelah Kraton mulai ditempati kemudian beridiri pula bangunan-bangunan pendukung lainnya, misalnya bangunan kediaman Sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, selesai dibangun tahun 1756. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran yang selesai pada tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai pada tahun 1761 dan 1762. Masjid Agung didirikan pada tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai pada tahun 1777. Dan akhirnya Bangsal Kencana selesai pada tahun 1792.
Melihat kemajuan yang sangat pesat akan pembangunan kraton yang didirikan Sri Sultan HB I menimbulkan rasa kekhawatiran pada pihak Belanda sehingga diajukanlah usul untuk membangun sebuah benteng disekitar wilayah kraton. Dalih yang digunakan adalah agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Akan tetapi maksud sesungguhnya Belanda adalah untuk memudahkan melakukan kontrol perkembangan yang terjadi di kraton. Hal ini bisa dilihat dari letak benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya menghadap ke jalan utama menuju kraton merupakan indikasi utama bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan dan blokade. Dapat dikatakan bahwa beridirinya benteng tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Sultan memalingkan muka memusuhi Belanda. Besarnya kekuatan dibalik kontrak politik yang dilahirkan dalam setiap perjanjian dengan pihak Belanda seakan-akan menjadi “kekuatan” yang sulit dilawan oleh pemimpin pribumi pada masa kolonial Belanda termasuk Sri Sultan HB I, oleh karena itu usulan pembangunan benteng dikabulkan.

 

Sebelum dibangun benteng pada lokasinya yang sekarang, pada tahun 1760, atas permintaan Belanda, Sri Sultan HB I telah membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut sebagai seleka atau bastion yang menyerupai bentuk kura-kura dengan keempat kakinya. Oleh Sultan keempat sudut tersebut diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaning (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).
Menurut Nicolas Harting, benteng tersebut keadaannya masih sangat sederhana. Temboknya terbuat dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren, sedangkan bangunan didalamnya terdiri atas bambu dan kaui dengan atap ilalang.

 

Ketika Nicolas Harting digantikan oleh W.H Ossenberch pada tahun 1765, diusulkan kepada Sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin keamanan. Usul tersebut dikabulkan dan selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan dibawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak. Tahun 1767 pembangunan benteng dimulai. Konstruksi-nya menggunakan semen merah, gamping, pasir dan batu bata. Menurut rencana pembangunannya akan selesai pada tahun itu juga tetapi pada kenyataannya proses pembangunan berjalan sangat lambat dan baru selesai pada tahun 1787, hal ini karena pada masa tersebut Sultan juga sedang giat-giatnya melakukan pembangunan Kraton Yogyakarta sehingga bahan dan tenaga yang dijanjikan lebih banyak teralokasi untuk pembangunan kraton. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Benteng Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”.
Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merubuhkan bangunan-bangunan antara lain Gedung Residen, Tugu Pal Putih dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan lain. Seluruh bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Untuk Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai dibangun kembali, nama Benteng Rustenburg berganti menjadi “Benteng Vredeburg” yang artinya “Benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan Belanda yang tidak saling menyerang pada waktu itu.

Bentuk benteng tetap seperti awal dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut “seleka” atau “bastion”. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Didalamnya terdapat bangunan-bangunan seperti rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Penghuni benteng sendiri pada waktu itu mencapai 500 orang prajurit termasuk petugas medis dan para medis.

 

Pada masa pemerintahan Belanda, benteng ini juga memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta karena kantor residen letaknya berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg.

 

Seiring dengan perkembangan politik di Indonesia maka status kepemilikan Benteng Vredeburg juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdirinya benteng ini adalah milik Kraton walaupun dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC pada periode 1788-1799 menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda) dibawah Gubernur Van Den Burg sampai ke pemerintahan Gubernur Daendels. Ketika Inggris berkuasa maka benteng dibawah penguasaan Gubernur Jenderal Raffles. Status benteng sempat kembali ke pemerintahan Belanda sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang di bulan Maret 1942.
Pada tanggal 9 Agustus 1980 dengan persetujuan Sri Sultan HB IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara dan pada tanggal 16 April 1985 dilakukan pemugaran untuk dijadikan Museum Perjuangan. Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1987. Tanggap 23 November 1992 Benteng Vredeburg resmi menjadi “Museum Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Vredeburg”

 

Karena telah difungsikan sebagai museum modern, Benteng Vredeburg memiliki koleksi lengkap meliputi koleksi bangunan, koleksi realia, koleksi foto termasuk miniatur dan replika serta koleksi lukisan. Selain itu terdapat pula 4 ruang pameran minirama sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

 

Dengan penuturan pemandu yang jelas dan tidak membosankan niscaya keinginan anda untuk disegarkan kembali tentang perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan akan terpenuhi tanpa lagi-lagi- merasa digurui.

 

puas dah keliling ngelihat diorama dan mendengarkan penjelasan melalui pesan suara yang keluar dari tiap masing2 bilik. emmm mirip bener pelajaran sejarah aku dulu waktu di smp…ya eyyyaaalllahhhh…sayang beberapa saklar untuk mencet suara ada yang rusak . overall semua benda dan perlengkapan didalamnya terawat dengan baik. cuma heran aja napa sih kalo musium selalu di dramatisir dengan ruangan yang gelap. ini mungkin yang bikin sebagian orang membosankan. okelah kalo niatnya untuk menyeragamkan dengan isi tema yang ada di dalam musium, tapi gak bisa ya sedikit bermain dengan cahaya atau laser. biar keliatan lebih hidup gitu…#menurutku sih, e tapi terserah ding….
Gak sah rasanya kalo gak keliling benteng. Biar kaki udah gak bisa diajak kompromi alias pueeggelnya pollll, karena dari pagi kita jalan mulu…..tapi capek itu ilang karena aku jalan berdua sama ayuk…(huuuu gombal). weuw ukuran lebar benteng lumayan tebal. eh….ada yang lagi pacaran tuh…mojok berdua di sudut benteng…mana lagi marahan lagi…huakakkah…bukan nguping sih…tp emang bener denger si cewek sewot ma cowoknya…* loh kok malah ngomongin orang to aku ….rumpi deh aku ni….hiakakakah
Beuh indahnya perjalananku di benteng tak lain dan tak bukan karena di tiap sesi dan moment,…take pose plisss…jepret…jepret…yak….potooooooo…..lengkap sudah mengenal nih benteng. Saatnya pulaaaaaaaaanggggg….kayaknya besok lagi gak mau ke benteng lagi, mau cari benteng2 yang laeeeennn. sekali aja ke benten vredeburg jogja.
Buat agan yang lagi di jogja atau yg mau ngerencanain acara holiday di jogja, mampir deh ke nih benteng. Dijamin foto narsis kalian akan nampak keren. Jangan lupa mampir ya…. ^_^…. oh ya terakhir, kayaknya benteng ini spot yang baik buat kalian yang pengen foto prewed. wes ah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s